22 11-19

Sisi Gelap Vlog Keluarga di YouTube

avatar

Oleh   Marketing Team

Kategori   Kebutuhan

 

 Sahabat, siapa sih yang tidak suka nonton vlog? Vlog atau video blog di YouTube menjadi sebuah konten yang dinikmati banyak kalangan, mulai anak-anak hingga orang dewasa. Dilansir dari tirto.id, per 1 Juli 2019, dari 100 besar YouTubers di Indonesia, sebanyak 39% merupakan konten vlog. Lainnya 19% konten gaming, 14% musik, 11% info populer, dan konten-konten sisanya hanya 1%.

Vlog bergenre keseharian keluarga merupakan sesuatu yang menjadi tren akhir-akhir ini, meskipun sesungguhnya bukan hal baru. Di Amerika, ada Shaytards, keluarga dengan 5 orang anak dan lebih dari 5 juta subscribers, melakukan vlog harian sejak tahun 2009. Di Indonesia ada Gen Halilintar sebagai salah satu pelopor vlog keluarga yang kini mencapai 12,6 juta subscribers.

Pada permukaannya, vlog keluarga terlihat sebagai konten yang ramah anak, ramah keluarga. Apa yang bisa salah dengan konten yang berisikan keseharian keluarga? Sebagian orangtua bahkan bisa melepaskan pekerjaan kantoran mereka dengan banyaknya pendapatan iklan, kerjasama dengan brand, hingga penjualan merchandise seperti sweter dan kaos. Vlog keluarga dengan anak yang masih bayi dan balita terutama menjadi daya tarik tersendiri di internet. Lagipula, orangtua mana yang tidak senang dibayar untuk menghabiskan waktu dengan anaknya yang masih kecil?

Di sisi lain, terdapat perbedaan antara menjadikan daily vlogging sebagai salah satu konten dan menjadikannya fokus utama dari sebuah channel. Hal pertama, tentu saja, masalah privasi. Keamanan informasi privat anak menjadi mudah diketahui siapa saja. Juga dengan adanya kolom komentar di YouTube, orang bebas menyatakan opininya terhadap apa yang ditonton. Orang asing dengan mudah menilai apa yang mereka lihat melalui layar kaca; mengenai si anak ataupun orangtuanya, meskipun YouTube kini memiliki kebijakan untuk menonaktifkan kolom komentar pada channel yang menampilkan anak di bawah umur.

Terlebih untuk keluarga yang orangtuanya menjadikan YouTube sebagai pekerjaan full-time, mereka harus selalu menemukan ide-ide baru untuk ditunjukkan ke penonton. Apa yang menurut satu keluarga aman dan sesuatu yang lucu, misalnya, belum tentu lucu menurut orang lain. Contoh ekstrim terjadi pada sebuah channel bernama DaddyOFive (akun telah didelete oleh YouTube) milik Michael dan Heather Martin yang membuat konten video prank terhadap anak-anaknya; menuduh si anak melakukan kesalahan, berteriak, berlaku kasar. Hal ini berulang dalam video mereka hingga penonton channel melaporkan ke pihak berwajib. Pasangan tersebut akhirnya kehilangan hak asuh atas dua anak terkecil pada 2017. 

Kertika sebuah channel semakin terkenal, kerja yang harus dilakukan untuk vlogging menjadi semakin berat. Anak-anak yang awalnya mungkin melakukannya dengan sukarela bisa jadi merasa terbebani dengan apa yang mereka lakukan. Konten yang tadinya hanya merupakan observasi ketika si anak masih bayi, menjadi scripted untuk membuatnya terlihat lebih menarik. Sementara penonton vlog yang juga masih anak-anak mungkin menganggap apa yang mereka lihat sebagai kenyataan.

Secara legal, anak-anak yang masuk ke vlog keluarga juga tidak memiliki perlindungan hukum yang jelas. Di Amerika, contohnya, ada peraturan dari Department of Education bahwa aktor dan seniman anak tidak boleh bekerja lebih dari 6 hari berturut-turut, dan anak usia 5-9 tahun tidak bekerja lebih dari 2.5 jam perhari. Namun peraturan ini tidak berlaku bagi user-generated content, seperti anak-anak di YouTube dan Instagram.  

Judul yang ‘kontroversial’ menjadi clickbait untuk orang menonton video. Semakin banyak penonton, semakin banyak pula  pemasukan mengalir. Namun orangtua yang menjalankan vlog keluarga perlu memperhatikan dampak jangka panjang jenis konten seperti ini bagi moral dan psikologis anak. Apakah ketika anak sakit dan harus dilarikan ke rumah sakit merupakan saat yang tepat untuk dijadikan konten? Apakah ketika anak besar akan suka melihat video dirinya sedang menangis karena bertengkar dengan adiknya, misalnya, dilihat oleh jutaan orang di internet?

Khonza Hanifa/ Kapilerindonesia

Untuk memberikan komentar anda harus login terlebih dahulu

Komentar

Belum ada komentar :(